Selasa, 18 November 2008

SEJARAH MASJID LAUTZE

Sewaktu lahir pada 14 April 1961 di Jakarta, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, tetapi kemudian diubah menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Karena keluar instruksi dari pemerintah (14 Desember 1972) yang menekankan agar organisasi ini tidak berciri etnis tertentu, walaupun PITI tetap merupakan wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim.

Kemudian PITI kembali menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ditetapkan dalam rapat pimpinan organisasi pada pertengahan Mei 2000. Dengan demikian, dapat dikatakan PITI saat ini kembali ke Khittah (garis perjuangan) semula, yakni organisasi yang tegas menyebut diri sebagai wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim. Tujuannya adalah mengembangkan dakwah di kalangan orang-orang Tionghoa, baik yang sudah menjadi muslim maupun yang belum. Yang sudah muslim ditingkatkan pengetahuan dan pengamalan Islamnya, sedang yang belum muslim diberi penjelasan tentang Islam.

Namun dalam muktamar tahun 2000 di Jakarta, terjadi perdebatan di antara peserta mengenai kepanjangan PITI, apakah kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ataukah Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Sebagian peserta menghendaki kembali kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, karena itulah nama organisasi ini sewaktu didirikan dan ingin kembali berkiprah untuk komunitas Tionghoa muslim khususnya. Sebagian lainnya ingin mempertahankan Persatuan Iman Tauhid Indonesia, karena organisasi ini harus terbuka bagi semua orang Islam, walaupun mengutamakan keturunan Tionghoa Muslim.

Untuk menyelesaikan perdebatan itu, maka disepakati untuk menggunakan kedua kepanjangan itu bagi PITI, sehingga kepanjangannya menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Keputusan itu diambil, karena para peserta sepakat bahwa PITI mengutamakan Tionghoa, tetapi terbuka bagi pribumi muslim.

Sejak semula PITI yang didirikan oleh H. Abdul Karim Oey Tjeng Hien, H. Abdusomad Yap A. Siong, Kho Goan Tjin, dan kawan-kawan, dimaksudkan sebagai organisasi dakwah untuk membantu orang-orang Tionghoa yang ingin masuk Islam, mempelajari Islam, dan mengamalkan Islam melalui kegiatan sosial.

Menurut penelitian-penelitian yang pernah dilakukan belum ada data yang pasti mengenai jumlah penduduk Tionghoa Muslim di Indonesia, tetapi pimpinan PITI memperkirakan jumlah penduduk Tionghoa ada 10 juta orang, sedang seorang ahli Cina dari Universitas Indonesia, A. Dahana mencatat 7.200.000 orang, dan seorang peneliti masalah Cina dari Universitas Nasional Singapura menduga ada 5.700.000 orang Tionghoa.

Dari jumlah itu orang Tionghoa Muslim menurut pimpinan PITI mencapai 5 (lima) persen, seorang pemerhati tentang Tionghoa muslim HM. Ali Karim memperkirakan Tionghoa Muslim hanya 2 (dua) persen, dan seorang tokoh Tionghoa Muslim yang sangat terkenal yaitu Drs. H. Junus Jahya menduga penduduk Tionghoa Muslim hanya sekitar 1 (satu) persen dari total penduduk Tionghoa di Indonesia.

Angka manapun yang diikuti, baik yang mengatakan 5 (lima) persen, apalagi yang menduga hanya 1 (satu) persen, penduduk Tonghoa Muslim memang masih sangat sedikit, sehingga dakwah di kalangan mereka terasa sangat perlu dan mendesak. Tetapi dakwah di kalangan mereka tidak dimaksudkan untuk mengajak masuk Islam, tetapi terutama adalah meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang Islam.

Misalnya karena banyak penduduk pribumi muslim yang miskin dan kurang terdidik, maka timbul persepsi yang salah dikalangan orang-orang Tionghoa seolah-olah kalau masuk Islam akan membuat mereka miskin dan bodoh. Kesalahpahaman ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang Tionghoa enggan masuk Islam selama ini.

Karena itu, perlu dijelaskan bahwa Islam tidak menghendaki penganutnya miskin dan bodoh. Islam malah mengharuskan pemeluknya untuk mencari harta yang sebanyak-banyaknya asal caranya halal dan mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu pengetahuan setinggi-tingginya di bidang apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat dan menuntut ilmu pengetahuan boleh dimana saja. Ada sebuah hadist yang sangat populer: 'e2'80'9ctuntutlah ilmu walau di negeri Cina.'e2'80'9d

Pengertian itulah yang perlu disampaikan kepada orang-orang Tionghoa. Setelah mereka mengerti hal itu lalu mereka masuk Islam atau tidak itu sepenuhnya terserah mereka. Sebab masuk suatu agama, termasuk Islam, tidak boleh dipaksa, tetapi harus didasarkan atas keimanan dan kesadaran pribadi agar dapat menerima dan mengamalkam Islam dengan ikhlas.

Faktor lain yang menyebabkan PITI bertambah penting peranannya saat ini adalah terjadinya perubahan politik, yakni runtuhnya Orde Baru dan munculnya era reformasi. Perubahan politik ini mendorong terjadinya perubahan sikap orang-orang Tionghoa ke arah yang terbuka kepada orang-orang pribumi, yang kemudian mereka terdorong masuk Islam, karena mayoritas golongan pribumi itu muslim.

Pada masa Orde Baru banyak orang Tionghoa bersikap eksklusif, karena bisnis mereka maju dengan pesat berkat fasilitas dari pemerintah, sehingga mereka merasa untuk berbisnis tidak terlalu mendesak bekerjasama dengan golongan pribumi. Kalau kerjasama dengan pribumi biasanya mereka lakukan dengan oknum-oknum pemerintah dan orang-orang yang dekat penguasa.

Dengan demikian, hidup mereka cenderung eksklusif, sehingga kurang mendapat dorongan masuk Islam, kecuali mereka hatinya mendapat hidayah dari Allah atau menikah dengan pribumi muslim. Namun dengan runtuhnya Orde Baru dan diganti oleh era reformasi yang diharapkan memberi kesempatan yang sama kepada golongan pribumi dan nonpribumi dalam berusaha, maka orang-orang Tionghoa tidak bisa lagi berlindung pada kekuasaan. Akibatnya orang-orang Tionghoa harus lebih banyak berinteraksi dan bekerjasama dengan golongan pribumi. Interaksi dan kerjasama yang semakin luas bisa menjadi salah satu dorongan kuat bagi orang-orang Tionghoa untuk masuk Islam.

Karena itu, bisa diduga bahwa pada era reformasi ini akan banyak orang-orang Tionghoa masuk Islam. Untuk mengantisipasi perkembangan ini, maka PITI harus tegas menyebut diri sebagai organisasi Tionghoa agar mudah dikenali oleh orang-orang Tionghoa yang hendak masuk Islam.



SEKILAS TENTANG PITI


MASJID CENG HOO


Bangsa cina memang fenom

enal, penghuni cina daratan dan cina perantauan yang tersebar diseluruh penjuru dunia telah membentuk sebuah komunitas terbesar dari jumlah populasi dunia, menariknya lagi sebagai bangsa besar yang berperadaban tinggi dan agung. Dimanapun orang cina berada, ia takkan pernah bisa dipisahkan dengan identitas budaya yang kuat dan tradisi niaga yang telah mendarah daging.

Kini setelah masyarakat cina modern tersebar maka secara perlahan - lahan terjadi proses pembaruan dan pembauran dengan tingkatan yang berbeda. Kini komunitas cina modern menjadi penganut beragam agama dan kepercayaan namun yang membanggakan simbol - simbol budaya dan tradisi leluhur menjadi sebuah simpul perekat diantara mereka sehingga secara sadar mereka berusaha melestarikannya dari masa ke masa.
Setidaknya sekali dalam setahun warga etnis tionghoa menggelar pesta rakyat tahun baru cina yang dirayakan dengan berbagai gelar budaya yang menampilkan sejumlah kesenian khas negeri naga seperti pawai lampion, barongsai atau liang liong dalam gebyar warna merah yang dominan dan salam khas yang kian akrab terdengar di telinga kita “GONG XI FAT CAI”

Jejak Kyai Kuning

Negeri Cina ternyata tidak hanya terkenal di mancanegara sebagai negeri kuning dengan sungai kuning (Hwang Ho), jika dilihat sejarah penyebaran agama Islam di nusantara maka peran penganjur - penganjur agama Islam dari negeri tiongkok patut dikedepankan, merekalah yang kemudian disebut oleh orang - orang pribumi atau masyarakat jawa sebagai kyai kuning.

Jejak kyai kuning sangat terlihat pada beberapa aristektur masjid tua dan bersejarah yang mengadopsi arsitektur khas negeri tiongkok dan memadukannya dengan arsitektur lokal dan timur tengah. Masjid Jami’ Sumenep dan Asta tinggi yang monumental sebagai makam raja - raja sumenep memperlihatkan jejak - jejak peninggalan kyai kuning dalam pembangunan peradaban Islam.

Cerita tentang kyai kuning ini tidaklah lengkap tanpa menyebutkan seorang bahariwan agung Laksamana Cheng Hoo yang memimpin pelayaran muhibah sebanyak tujuh kali antara tahun 1405 hingga 1433 dan mengunjungi 30 negara di rantau melayu, Asia Selatan dan Timur Tengah. Cheng Hoo dan armadanya diyakini oleh banyak sejarawan dunia mempunyai andil yang besar dalam penyebaran agama Islam di semenanjung melayu termasuk di Pulau Jawa dan Sumatera. Dalam Perjalanannya ke Jawa Timur yang bertepatan pada hari Jum’at, Cheng hoo didaulat sebagai Kyai Kuning yang berkhutbah di hadapan ratusan warga surabaya, diriwayatkan pula bahwa armada cheng hoo juga mentransformasikan beberapan kemahirannya di berbagai disiplin ilmu seperti perikanan, pertanian, peternakan dan pertukangan.

Kisah Heroik Kyai Kuning dalam syiar agama Islam adalah kepeloporan Pangeran Jin Bun putra prabu Brawijaya (1453 - 1478) dari seorang selir berdarah cina yang dalam beberapa catatan sejarah disebutkan beragama Islam. Pangeran Jin Bun yang beragama Islam diberi kedudukan sebagai Bupati Demak yang bergelar Raden Patah. Dari Demaklah gerakan reformasi sang kyai kuning di mulai. Raden Patah melihat kebesaran majapahit hanyalah semu belaka sebab persatuan dalam negeri melemah sementara penyebaran agama Islam di Pantai Utara dan Pesisir Timur Pulau Jawa sudah demikian meluasnya yang dipelopori oleh pedagang - pedagang tiongkok yang sebagian besar beragama Islam dan dukungan dari para sunan yang terkenal sebagai wali sembilan (wali songo). Pada sekitar tahun 1500 M, Raden Patah/Jin Bun/R. Bintoro yang memerintah di Demak, secara terbuka memutuskan ikatan dari Majapahit yang sudah tidak berdaya lagi, dan atas bantuan daerah-daerah lain yang telah Islam antara lain Gresik, Tuban dan Jepara, Raden Patah mendirikan Kesultanan Islam yang berpusat di Demak.Dari Demaklah cita - cita Kyai Kuning untuk penyebaran dan pengembangan Syiar Islam dimulai dan Dari Demaklah Kebangkitan Islam pada mulanya disuarakan dan diperjuangkan hingga ke penjuru nusantara.

Kyai Kuning Dan Masjid Mohammad Chengho

Selain Jejak Perjuangan Kyai Kuning ternyata terdapat sejumlah tapak sejarah yang tersisa seperti kronik bersejarah kerajaan nusantara, peta , benda kuno juga bangunan bercorak arsitektur cina seperti kampung pecinan, klenteng, makam, masjid hingga istana.

Gerbang Utama Masjid Jamik Kota Sumenep,

Paduan Arsitektur multi etnik yang menawan

Di tengah Kota Pahlawan Surabaya, PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) berhasil merealisasikan pembangunan Masjid Laksamana Muhammad Cheng hoo sebagai monumen atas dakwah chengho sekaligus sebagai sumbangsih nyata etnis tionghoa bagi kemajuan peradaban nusantara.

Program utama PITI diarahkan untuk menyampaikan dakwah Islam, khususnya kepada masyarakat Tionghoa. Caranya dengan melakukan pembinaan dalam bentuk bimbingan menjalankan syariat Islam di lingkungan keluarga yang masih non-Muslim. Kemudian persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta pembelaan dan perlindungan bagi mereka yang karena masuk Islam, namun bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

PITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

Kyai Kuning , gerakan pembaruan dan pembauran

Dua Lagi Kyai Kuning yang mempunyai andil cukup besar bagi gerakan pembaruan dan pembauran di kalangan masyarakat etnis tionghoa adalah Haji Abdul Kariem Oei Tjeng Hien dan Haji Yunus Yahya alias Lauw Chuan Tho.

Bapak Karim Oei (1905-1988) masuk Islam ditahun 30-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka. Beliau seorang tokoh Muhammadiyah dan pionir dakwah, pejuang kemerdekaan, muslim yang taat dan sukses di bidang ekonomi.

Haji Kariem Oei dikenal sebagai tokoh pembaruan dan pembauran yang begitu istimewa dihati saudara kita etnis tionghoa baik yang muslim maupun yang non muslim, untuk meneruskan jejak perjuangannya maka Haji Yunus Yahya kemudian mendirikan Yayasan Haji Kariem Oei pada tanggal 9 April 1991 dengan mengontrak ruko di Jalan Lautze 87-89 Pasar Baru, Jakarta Pusat. Yayasan ini kemudian menghimpun jamaah muslim dari etnis tionghoa dan masyarakat sekitar dan mendirikan sebuah masjid sebagai pusat Syiar Islam yang kemudian dikenal sebagai Masjid Lautze. Lokasi gedung Yayasan Kariem Oei dan Masjid Lautze yang memang terletak di area Pecinan (China town) memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam walhasil kini mesjid ini sudah mengislamkan 1000-an keturunan Tionghoa. Hebatnya, masjid tidak pernah mengajak apalagi memaksa, hanya menyediakan informasi tentang Islam.

Pilihan menjadi muslim dan muslimah memang menjadi salah satu gerakan pembaruan dan pembauran etnis tionghoa, hal ini dipertegas dengan penyataan Haji Yunus Yahya :

"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat."

Jejak Kyai Kuning dalam gerakan pembaruan dan pembauran sesungguhnya bisa menjadi inspirasi yang menumbuhkan kesadaran sebagai anak bangsa untuk bangkit dan bersatu dalam membangun satu negeri INDONESIA.

SEJARAH MASJID LAUTZE

Masjid Sempat ‘Ngontrak’ demi Syi’ar Islam

Laporan: RW
Masjid ngontrak, pernahkah anda dengar? Mungkin Masjid Lautze masjid pertama di Indonesia yang pernah terpaksa mengontrak gedung demi tegaknya syi’ar agama Islam di kalangan etnis Cina. Karena sebagian besar jama’ah masjid adalah mu’alaf (orang yang baru masuk Islam), di saat bulan ramadhan pengajian mingguan banyak dilakukan di rumah-rumah pejabat. Apa sih uniknya mereka?

Berdiri di tengah-tengah daerah perdagangan, gedung berlantai empat di jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru, Jakarta ini seperti layaknya ruko (rumah toko). Papan nama berwarna merah. Pintu-pintunya pun berwarna merah. Warna khas etnis Cina. Namun ada nuansa lain dalam bentuk bingkai pintunya yang melengkung. Lengkungan itu seperti gaya bangunan seni Islam. Gambarannya pun serupa masjid. Ternyata, lantai bawah bangunan yang bertuliskan nama Yayasan Haji Karim Oei (baca: Karim Ui) memang berfungsi sebagai masjid, yaitu Masjid Lautze.
Yayasan Haji Karim Oei didirikan 9 April 1991. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu. Nama yang terdengar bernuansa Cina ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan misi yayasan yang berupaya menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa.
Selain dikenal sebagai konsul Muhammadiyah karena ketaatannya menjalankan syari’at Islam dengan baik, H Karim Oei juga seorang bisnismen yang sukses. Ia merupakan salah satu pendiri Bank Central Asia (BCA), Preskom BCA dan pemilik berbagai perusahaan yang sukses, khususnya di bidang industri. “Karena itu, setelah bapak meninggal, Pak Yunus Yahya (tokoh pembauran) dan kawan-kawan mendirikan yayasan ini untuk mengenang almarhum. Tujuannya, agar lahir Karim Oei-Karim Oei baru yang Islamnya kuat, nasionalis tulen dan bisnismen sukses,” tutur H Ali Karim, SH, salah satu anak H Karim Oei dan menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei.
Lokasi gedung memang terletak di area Pecinan (China town). Sehingga, memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam. “Mungkin sebenarnya banyak orang Tionghoa ingin tahu tentang Islam. Tetapi kebanyak mereka takut atau ragu untuk masuk masjid. Dengan melihat papan nama yang mencantumkan jelas nama Haji Karim Oei, tentu orang sudah tahu bahwa ini yayasan Islam yang ada hubungannya dengan etnis Cina. Sehingga, kalau ada orang Tionghoa lewat sini dan ingin masuk Islam, tidak akan sungkan lagi,” papar Ali.
Meski sarat nuansa Cina, Ali menegaskan, keberadaan yayasan terbuka untuk setiap orang. ”Salah, kalau ada yang mengatakan yayasan ini adalah perkumpulan cina muslim. Misinya memang untuk orang Cina, tapi kegiatannya siapa saja boleh ikut. Bahkan, kita pun tidak menutup kemungkinan bagi non muslim untuk berpartisipasi membantu yayasan atau mengikuti berbagai forum kegiatan di sini.”

Cina kaya
Stereotipe orang Cina pasti kaya, juga dialami oleh yayasan. Itu terlihat dari banyaknya permohonan bantuan pada yayasan. Padahal, pada awal berdirinya, untuk menebus akte pendirian sebesar Rp 100.000 saja pihak yayasan tidak mampu. Beruntung, yayasan mendapat tugas mengurus jama’ah haji dengan ONH Plus. Uang komisi dari tugas itulah yang digunakan untuk membayar akte.
Setelah yayasan berdiri, kendala lain muncul. Yayasan belum mempunyai tempat. Maka, mau tak mau harus mengontrak gedung di lantai bawah di jalan Lautze untuk kantor. Ide lain kemudian muncul dari ketua umum Yayasan yaitu Drs H Junus Jahja untuk membangun masjid. “Tidak ada jalan lain, kita hanya punya satu lantai digunakan untuk masjid. Sedang kantor kita pakai ruangan pak Yunus yang berada di lantai dua,” ungkap Ali seraya menambahkan, “jadilah masjid ini masjid pertama di Indonesia yang ngontrak.
Masjid Lautze baru dinyatakan milik yayasan, setelah Prof DR Ing Habibie melalui ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) saat itu yaitu H Ahmad Tirtosudiro (sekarang ketua DPA), membayar harga gedung berlantai empat secara keseluruhan. Yaitu, sekitar 1998 yayasan telah memiliki gedung sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam.

BOX:

Dakwah Ramadhan melalui Media Elektronik

Jama’ah Masjid Lautze ini pun tergolong unik. Mengapa? Karena sebagian besar di antara mereka adalah mu’allaf yang pastinya telah mendapat hidayah dari Allah untuk memeluk agama Islam, meski melalui proses pengislaman berbeda. Misalnya, karena pergaulan atau mau menikah.
Menurut HM Syarif Tanudjaya, bendaha umum yang juga salah seorang pengurus harian yayasan, sebelum terjadi krisis, hampir setiap hari ada orang Tionghoa yang ingin masuk Islam. Mereka kemudian dikumpulkan untuk diyakinkan terlebih dahulu kesungguhannya pindah agama. Namun setelah krisis, kira-kira tiga hari sekali ada yang masuk Islam. Jumlahnya tiap tahun ada 100 sampai 120 orang yang baru masuk Islam.
Kegiatan pengajian dilakukan setiap minggu pukul 11.00 WIB hingga dilanjutkan setelah dzuhur dengan memanfaatkan beragam kegiatan. Seperti, diskusi, les bahasa Inggris, bahasa Cina, musik dan lainnya. “Mengapa dipilih Minggu? Karena keturunan Cina banyak pedagang, hari Minggu mereka tidak kerja. Terutama, jama’ah di sini banyak pula yang datang dari tempat jauh, seperti Bogor, Tangerang, Cirebon dan lain-lain. Tapi, hari Senin sampai Jum’at pun mereka bisa datang. Bagi warga sekitar sini yang mau belajar ngaji atau tanya-tanya persoalan agama ada ustdz-ustdzah yang siap membantu,” ungkap Ali.
Khusus di bulan Ramadhan, biasanya dilakukan pengajian keliling dari rumah ke rumah tiap minggu. Uniknya, rumah yang dikunjungi adalah rumah salah seorang pejabat atas undangannya. Seperti, Mar’ie Muhammad, BJ Habibie, Amin Rais, R Hartono, pernah mengundang jama’ah masjid untuk berbuka puasa, tarawih dan mendengar ceramah.
Selain itu, Yayasan Haji Karim Oei juga selalu berupaya untuk mensyi’arkan dakwah bulan Ramadhan melalui media elektronik. Contohnya, pada bulan Ramadhan tahun lalu mengadakan kerja sama dengan Anton Indracaya tentang masalah haji. “Niat untuk membuat acara seperti itu lagi tetap ada. Tetapi untuk membuat pesantren kilat di bulan Ramadhan belum terpikir. Dulu, pernah kita programkan tapi terbentur pada pemilahan kelas. Jama’ahnya kan ada yang hanya tamat SMP, SMA, kuliah, sehingga cara berpikirnya beda. Mau bikin kelas awalnya dari mana, bingung,” tukasnya. RW

JEJAK MASJID LAUTZE

Silaturahmi PA ALI KARIM OIE KE MASJID LAUTZE 2 DI BANDUNG


imageAda anjuran tak tertulis di kalangan etnis Tionghoa, yaitu boleh masuk agama apa saja kecuali Islam. Dienullah ini digambarkan sebagai agama tukang nyandung (orang yang suka berpoligami).

Benarkah mualaf itu hanya sebutan untuk orang yang baru pertama kali masuk Islam? Bagaimana dengan orang yang sejak lahir Islam, tapi baru akan memperdalam ilmu agamanya, apakah pantas disebut mualaf? Bagaimana dengan stigma mengenai Islam sebagai agama "rendah" (sampai-sampai ada istilah di kalangan etnis Tionghoa, boleh memeluk agama lain kecuali agama Islam)? Bagaimana menghapuskan stigma agama Islam identik dengan poligomi?

Berondongan pertanyaan itu mengemuka dalam acara silaturahmi Muslim Tionghoa di Bandung, akhir pekan lalu. Dalam kemasan acara bertajuk 'Ada Apa dengan Mualaf ?'.

Apreasiasi dari peserta di luar dugaan. Mereka bersama-sama mencari solusi bagi semua permasalahan yang dihadapi mualaf. Hadir sebagai narasumber pada acara itu adalah Wakil Ketua Yayasan Haji Karim Oei Jakarta HM Ali Karim Oei dan pengurus masjid Lautze Ku Kie Fung S Ag Muh Syarif Abdurrahman. Acara itu dihadiri juga oleh mantan preman dan residivis Anton Medan dan pelawak asal Bandung, Sup Yusup, beserta istri.

Menurut HM Ali Karim Oei, di Jakarta pihaknya sudah mengislamkan sekitar dua ribu orang sejak 10 tahun lalu. Setiap satu minggu, kata dia, masjidnya mengislamkan dua atau tiga orang. Selain di Jakarta, kata dia, di Masjid Lautze Bandung dan Tanggerang pun banyak mualaf yang datang. Bahkan, di daerah lain minat non-Muslim untuk memeluk agama Islam pun tinggi. ''Oleh karena itu, kami akan membuka masjid di Cirebon, dan Surabaya pun akan dibuat Masjid Lautze,'' katanya.

Bila dilihat per wilayah, Jakarta, kata dia, paling banyak mualafnya. Sebenarnya, kata dia, banyak orang, terutama etnis Tionghoa, yang ingin tahu Islam tapi tidak harus kemana. Pada umumnya, kata dia, orang Tionghoa yang mau tahu tentang Islam itu akan mencari Masjid Lautze. ''Karena bentuk Masjid Lautze seperti ruko jadi tidak menakutkan bagi mereka,'' ujarnya.

Para mualaf, kata Ali, masih memiliki kendala dan hambatan setelah masuk Islam. Memang, kata dia, masalah yang mereka hadapi itu bentuknya bukan penyiksaan seperti zaman dulu. Namun, tekanan dalam bentuk lain, misalnya tekanan perasaan. ''Kendala yang dihadapi oleh mualaf sekarang misalnya di sekolah, begitu tahu Islam langsung dikeluarkan oleh sekolah berlatar agama lain,'' jelasnya. Beruntung, jalan keluar sudah diperoleh. Mereka menjalin kerja sama dengan Muhamadiyah dan lembaga pendidikan Islam yang lain untuk menampung mereka.

Sebelum zaman demokrasi, kata dia, banyak mualaf yang diusir oleh keluarganya karena keluarganya tidak setuju ia berislam. Sehingga, pihaknya menyiapkan tempat untuk menampung mualaf yang diusir itu. Namun, lama-lama tempat itu tidak terpakai lagi setelah globalisasi dan modernisasi berkembang. ''Upaya yang kami lakukan saat ini adalah pembinaan setiap hari dengan menyiapkan ustadz dan ustadzah,'' katanya.

imageSedangkan menurut Anton Medan, untuk berdakwah pada etnis Tionghoa, tantangannya sangat besar dibanding berdakwah di kalangan pribumi. Hal itu, kata dia, berkaitan dengan kesiapan mental. Karenanya, ia menganjurkan agar mualaf dari etnis Tionghoa agar berbaur dengan Muslim pribumi. ''Tapi pada umumnya, kalau akidah dan keyakinan mereka kurang kuat maka akan mengalami kesulitan setelah menjadi mualaf,'' ujarnya.

Sup Yusup yang juga menjadi nara sumber dalam acara itu menceritakan, pada saat menjadi mualaf, etnis Tionghoa mengalami beberapa kendala. Terutama, kata dia, berkaitan dengan stigma yang dibangun tentang islam oleh non-Muslim. Islam, kata dia, diidentikan dengan tukang nyandung (poligami). Sehingga, kata dia, pada saat istrinya yang bernama Lie Ing masuk Islam, semua temannya menghina istrinya. ''Teman-teman istri saya mengatakan, kenapa harus masuk Islam, nanti hidup kamu tidak bahagia karena dimadu, lebih baik masuk agama lain saja asal bukan Islam,'' katanya menirukan.

Stigma lain yang sudah terbangun pada non-Muslim, kata dia, adalah, jika masuk Islam maka akan merosot dari segi materi. Pemikiran-pemkiran seperti itu, kata dia, menjadi tugas semua orang untuk merubahnya. Pasalnya, minat etnis Tionghoa untuk menjadi mualaf itu makin besar jika semua pihak membangun image Islam yang sebenarnya. ''Yang terpenting dari semua kendala itu adalah bagaimana agar mualaf itu bisa terus dibimbing dan dijaga keimanannya,'' katanya.

Sedangkan menurut Ketua Pengurus Masjid Lautze Cabang Bandung, Muhamad Bobby Alandi, kondisi yang dialami oleh mualaf Indonesia sesuai dengan kondisi umat Islam. Saat ini, kata dia, kondisi umat Islam merosot di segala bidang, begitu juga dengan kondisi mualafnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. Pertama, kata dia, kondisi umat islam yang lemah itu bisa membuka peluang maraknya upaya-upaya pemurtadan. Jadi, kata dia, mualaf perlu diperhatikan dengan terus memberikan bimbingan. Oleh karena itu, pihaknya akan membangun pondok singgah di Bandung. Rencananya, pembangunan dilakukan mulai 2006.''Pondok singgah untuk mualaf harus ada sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mualaf,'' ujarnya. ( Republika Online / n kie / Irwan MCOL)

SEJARAH MASJID LAUTZE

Siar Islam di Lautze

Ibarat langit dan bumi, etnis Arab dan Tionghoa secara budaya sulit dipertemukan. Namun dalam Islam mereka bisa melebur. Masjid Lautze tidak ada bedanya dengan masjid yang dibangun etnis Arab atau yang lainnya. Kendati secara fisik, bangunannya sangat berbeda. Masjid Lautze menjadi kebanggaan minoritas keturunan Tionghoa yang beragama Islam.

Masjid yang luasnya sekitar 100 meter persegi ini berada di Jalan Lautze, di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sepintas memang tidak ada bedanya dengan ruko. Awalnya memang begitu. Masjid Lautze ini pertama kali difungsikan pada tahun 1991 dengan menempati sebuah ruko sewaan, hingga tidak heran tidak ada kubah atau beduk.

Masjid ini didirikan Haji Karib Oei, dengan bantuan mantan Presiden BJ Habibie yang tujuannya untuk siar Islam dikalangan keturunan Tionghoa. Bila kita memasuki bagian dalam, akan terasa suasana masjid yang sebenarnya. Warna khas Tionghoa dan Islam mengelubur menjadi satu, sehingga perbedaan budaya begitu tajam seolah menyatu dan ada pembauran.

Masjid Lautze bisa menampung sekitar 200 jamaah dan ketika bulan Ramadhan tiba denyutnya sangat terasa. Pendiri Masjid ini, Karim Oei, yang dikenal akrab bergaul dengan Presiden I Ir. Soekarno, memang menginginkan pembauran antara 2 etnis, Tionghoa dan pribumi dalam 1 nafas Islam.

Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Lautze ini semarak dengan kegiatan keagamaan, seperti sholat berjamaah, tadarus, Al Qur'an dan diskusi tentang Islam. Puluhan warga Tionghoa yang memeluk Islam berbaur dengan warga pribumi di masjid ini.

Masjid ini juga menjadi saksi dari sebagian warga Tionghoa yang melantunkan 2 kalimat syahadat, ketika memilih, memeluk agama Islam, seperti yang dialami Andri. Ia tadinya bernama Yong Ju, kini memutuskan untuk dijalan yang ditunjukkan Nabi Muhammad.

Masjid Lautze selama ini diperkirakan sudah meng-Islamkan 1000 warga keturunan Tionghoa, baik dari Jakarta maupun daerah lain. Dan Masjid Lautze belum lama berdiri, namun menjadi bangunan penting bagi siar Islam dan pembauran antara etnis keturunan Tionghoa dan pribumi.

TENTANG MASJID LAUTZE

MASJID DI TENGAH AROMA CAPCAI DAN PUYUNGHAY

08 November 2008

(Jakarta, bimasislam) Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah. Berbeda dengan masjid satu ini, yakni Masjid Lautze yang berada di jalan Lautze no. 87-89 Jakarta Barat. Masjid ini tidak memiliki tampilan seperti kebanyakan tempat ibadah.

Namun, sejarah panjang tersimpan dari masjid yang didirikan 1991 silam oleh mantan Presiden BJ Habibie ini. Berawal dari sejumlah tokoh islam yang berasal dari ormas islam seperti NU, Muhammdiyah, Al-Wasliyah, Kahmi dan putra muslim keturunan cina Haji Karim Oei, (Ali karim Oei) membuat yayasan yang diberi nama Yayasan Oei Tjeng hien.Yayasan ini kemudian dikenal seagai Yayasan Haji Karim Oei, sebuah yayasan informasi Islam bagi WNI keturunan Cina yang beragama Islam.


Yayasan melihat Muslim kurang memperhatikan penyebaran dan pengetahuan Islam pada etnis minoritas Tionghoa. Lantas pada tahun 1993-1994 setelah terkumpul dana dipilihlah sebuah ruko di daerah pecinan jalan Lautze 87-89 untuk dijadikan mesjid."Perlu kerja keras untuk mengkontrak bangunan ini. Bahkan kami sempat menunggak bayaran bunga bank untuk mengontrak bangunan," ungkap Ali Karim Oei seperti dikutip Republika.

"Bisa dibilang Masjid Lautze merupakan masjid pertama di Indonesia yang mengontrak," ungkap Ali. Namun, menurut Ali,"Kalau kita ingin berbuat baik tidak perlu mejadi kaya terlebih dahulu," ujar Ali menambahkan. Ia menilai, keberadaan mesjid ini mempunyai peran vital yakni sebagai jembatan antara Islam dengan etnis tionghoa.

"Sekarang ini banyak warga keturuan menganggap Muslim identik dengan terorisme dan tukang kawin. Bahkan jika ada warga keturunan yang masuk Islam dianggap niat mau kawin lagi," ujar Ali. Menurut Ali kesalahan pemahaman seperti itu terjadi karena informasi seputar islam yang kurang d kaum Tionghoa.

"Adanya masjid seperti ini memungkinkan warga keturun non-muslim bertanya dan berdialog seputar keislaman," tegas Ali. Keuntungan lain menurut Ali, pemuka agama lain juga datang tanpa ada masalah sehingga Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta terwujud.

Meski tampang berbeda, tapi seperti masjid kebanyakan, pengajian dan diskusi seputar agama islam selalu diadakan setiap hari minggu di sana. Masyarakat sekitar baik muslim maupun non-Muslim dapat bergabung. Berdasarkan keterangan Ali, Masjid ini menurut pengakuan Ali sudah mengislamkan hampir 1000 warga keturunan semenjak tahun 1995. "Sekarang sudah banyak mahasiswa dan anak muda yang masuk Islam," ungkapnya.

Memandang apa yang terjadi pada umat Islam sekarang, dia menilai umat Islam telah lupa kepada Al-quran dan Al Hadist."Sebenarnya ajaran islam tidak susah dijalankan. Kita saja yang membuat sulit," kata Ali. Islam itu, bagi Ali mengajarkan meletakan sesuatu pada tempatnya. "Agama jangan dipersulit," kata Ali menegaskan.

Dia sendiri berharap, dalam situasi ekonomi saat ini, warga keturunan tetap bersatu dengan warga negara indonesia lain untuk membantu negara. Ali berpandangan jangan melihat apa yang diberikan negara kepada kita, tapi apa yang kita berikan kepada negara.

TENTANG MASJID LAUTZE

Masjid Lautze Sebarkan Islam di Kalangan Tionghoa

Masjid Lautze Sebarkan Islam di Kalangan Tionghoa

Masjid Lautze di Jakarta Barat menyebarkan ajaran Islam di kalangan warga Tionghoa telah mengislamkan sekitar 1.000 orang.

JAKARTA--Kebanyakan masjid di Indonesia berdiri kokoh dan megah dengan pengaruh kebudayaan kubah Timur Tengah. Berbeda dengan masjid satu ini, yakni Masjid Lautze yang berada di jalan Lautze no. 87-89 Jakarta Barat. Masjid ini tidak memiliki tampilan seperti kebanyakan tempat ibadah.

Namun, sejarah panjang tersimpan dari masjid yang didirikan 1991 silam oleh mantan Presiden BJ Habibie ini. Berawal dari sejumlah tokoh islam yang berasal dari ormas islam seperti NU, Muhammdiyah, Al-wasliyah,Kahmi dan putra muslim keturunan cina Haji Karim Oei, (Ali karim Oei) membuat yayasan yang diberi nama Yayasan Oei Tjeng hien.Yayasan ini kemudian dikenal seagai Yayasan Haji Karim Oei, sebuah yayasan informasi islam bagi warga negara indonesia (WNI) keturunan cina yang beragama islam.

Yayasan melihat Muslim kurang memperhatikan penyebaran dan pengetahuan Islam pada etnis minoritas Tionghoa. Lantas pada tahun 1993-1994 setelah terkumpul dana dipilihlah sebuah ruko di daerah pecinan jalan Lautze 87-89 untuk dijadikan mesjid."Perlu kerja keras untuk mengkontrak bangunan ini. Bahkan kami sempat menunggak bayaran bunga bank untuk mengontrak bangunan," ungkap Ali Karim Oei kepada Republika Online daat ditemui di salah satu ruang mesjid di lantai dua, Selasa (4/11).

"Bisa dibilang Masjid Lautze merupakan masjid pertama di Indonesia yang mengontrak," ungkap Ali. Namun, menurut Ali,"Kalau kita ingin berbuat baik tidak perlu mejadi kaya terlebih dahulu," ujar Ali menambahkan. Ia menilai, keberadaan mesjid ini mempunyai peran vital yakni sebagai jembatan antara Islam dengan etnis tionghoa.

"Sekarang ini banyak warga keturuan menganggap Muslim identik dengan terorisme dan tukang kawin. Bahkan jika ada warga keturunan yang masuk Islam dianggap niat mau kawin lagi," ujar Ali. Menurut Ali kesalahan pemahaman seperti itu terjadi karena informasi seputar islam yang kurang d kaum Tionghoa.

"Adanya masjid seperti ini memungkinkan warga keturun non-muslim bertanya dan berdialog seputar keislaman," tegas Ali. Keuntungan lain menurut Ali, pemuka agama lain juga datang tanpa ada masalah sehingga Islam sebagai agama rahmat bagi alam semesta terwujud.

Meski tampang berbeda, tapi seperti masjid kebanyakan, pengajian dan diskusi seputar agama islam selalu diadakan setiap hari minggu di sana. Masyarakat sekitar baik muslim maupun non-Muslim dapat bergabung. Berdasarkan keterangan Ali, Masjid ini menurut pengakuan Ali sudah mengislamkan hampir 1000 warga keturunan semenjak tahun 1995. "Sekarang sudah banyak mahasiswa dan anak muda yang masuk islam," ungkapnya.

Memandang apa yang terjadi pada umat islam sekarang, dia menilai umat islam telah lupa kepada Al-quran dan Al Hadist."Sebenarnya ajaran islam tidak susah dijalankan. Kita saja yang membuat sulit," kata Ali. Islam itu, bagi Ali mengajarkan meletakan sesuatu pada tempatnya. "Agama jangan dipersulit," kata Ali menegaskan.

Dia sendiri berharap, dalam situasi ekonomi saat ini, warga keturunan tetap bersatu dengan warga negara indonesia lain untuk membantu negara. Ali berpandangan jangan melihat apa yang diberikan negara kepada kita, tapi apa yang kita berikan kepada negara. /cr2/it

Webmaster Search Engine